Beda Omega3 dan Squalene ternyata berasal dari sumber dan cara mendapatkannya sehingga keduanya memiliki harga jual yang sangat kontras, cek fakta .. doc HNI Pioneer.

√ Post 05-12-23 by (Id214)
√ 3381 views
√ CLOUD Minyak Ikan

Beda Omega 3 dan Squalene

Ada sebagian orang yang beranggapan bahwa squalene adalah omega 3 karena sama-sama berasal dari minyak ikan.

Tapi bila dicermati lebih dalam, ternyata kedua senyawa ini memiliki perbedaan, baik dari cara mendapatkan serta fungsinya bagi kesehatan.

Berikut penjelasannya yang dinukilkan dari berbagai sumber.

Omega 3

Omega3 merupakan nama populer untuk minyak ikan yang memiliki kandungan berasal dari campuran Eicosapentanoid acid (EPA) dan Decoxahexanoid (DHA).

Para ahli sepakat bahwa sumber Omega 3 tidak hanya didapatkan dari hewan saja, tapi juga dari tumbuhan.

Menurut klikdokter.com, beberapa makanan hewani yang mengandung omega 3 antara lain sebagai berikut:

  • Ikan salmon
  • Ikan makarel
  • Ikan tuna
  • Tiram atau kerang
  • dan ikan teri.

Adapun sumber nabati omega 3 antara lain:

  • Kacang kedelai
  • Kacang almond
  • Walnut
  • Biji-bijian
  • Sayuran hijau
  • Minyak zaitun dll.

Telur dan susu juga oleh sebagian pakar diyakini memiliki kandungan omega 3.

Produk-produk yang mengandung omega 3 relatif lebih murah bila dibandingkan dengan squalene.

Sebabnya tidak lain karena sumber asal omega 3 tersedia secara berlimpah pada berbagai jenis makanan hewani dan tumbuhan.

Squalene

Hiu martilimage source istock photo

Squalene merupakan senyawa minyak yang diekstrak dari hati ikan hiu (biasanya hiu botol). Squalene merupakan bentuk hidrogenasi dari squalane.

Hati ikan hiu memiliki asam lemak dengan konsentrasi tinggi, sebagai salah satu adaptasi dalam menjaga kelangsungan hidupnya didasar lautan.

Yang menakjubkan adalah berat hati ikan hiu (pada salah satu spesies) bisa mencapai 20 persen dari bobot tubuhnya, luar biasa bukan?

Dengan kondisi seperti itu, hati ikan hiu menjadi salah satu sumber penting dalam produk yang membutuhkan squalene.

Ikan hiu merupakan spesies hewan yang populasinya sangat terbatas, oleh karena itu tidak mengherankan apabila turunan produknya berupa squalene menjadi mahal dan sulit didapatkan.

Struktur Squalene

Squalene merupakan senyawa golongan Triterpenoid yang dihasilkan secara in vivo oleh hati manusia sebagai prekursor sintesis kolesterol.

Seperti kebanyakan senyawa terpene lainnya, squalene dapat larut dalam lemak.

Sebagaimana kolesterol, squalene disekresikan melalui kulit serta berperan penting sebagai Skin Surface Lipid (SSL) dalam menjaga tubuh dari lingkungan luar.

Kandungan squalene bisa dengan mudah ditemukan secara alami, namun paling banyak dijumpai pada:

  • Minyak zaitun
  • Minyak ikan hiu
  • Biji gandum
  • dan dedak padi.

Pada minyak zaitun terdapat kandungan squalene sekitar 3,6 mg hingga 9,6 mg, angka ini kemungkinan tidak terpengaruh dalam pemrosesan minyak zaitun extra virgin.

Adapun pada minyak hati ikan hiu, menurut Mathews J dipercaya memiliki kandungan sebesar 40% dari beratnya.[1]

Antioksidasi Squalene

Para ahli meyakini bahwa squalene memiliki sifat sebagai antioksidan yang kuat.

Pada riset eksperimental in vitro memberikan bukti bahwa squalene merupakan agen yang mampu membersihkan oksigen sangat efektif.[2]

Pasca pengkondisian stres oksidatif seperti terkena paparan sinar matahari langsung, squalene berfungsi sebagai pemadam oksigen singlet.

Peran ini terlihat cukup efisien serta mampu mencegah peroksidasi lipid pada permukaan kulit manusia.

Kohno et al dalam penelitiannya menemukan bahwa:

Konstanta laju memadamkan oksigen tunggal pada permukaan kulit manusia oleh squalene ternyata jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan type lipid lainnya

Kondisi tersebut setara dengan 3,5-di- t -butyl-4-hydroxytoluene.

Squalene juga tidak terlalu rentan terhadap peroksidasi serta cukup stabil dari serangan radikal peroksida, menurut Kohno.

Hal tersebut menjadi bukti bahwa keberadaan squalene yang memadai pada kulit manusia bisa menghambat reaksi berantai peroksidasi lipid.

Hasil ini menjadi rujukan bahwa boleh jadi fungsi squalene dalam meminimalkan iritasi pada kulit adalah dengan menekan produksi O2 yang bergantung pada perbedaan tindakan superoksida dismutase.

Aktivitas Antikanker

Para peneliti pada awalnya tertarik meneliti squalene karena menemukan bahwa pada ikan hiu tidak terpapar kanker karena adanya jumlah squalene yang tinggi pada jaringan lemaknya.

Kemungkinan hal inipun memiliki peran penting dalam menurunkan tingkat kanker pada mereka yang melakukan diet Mediterania.

Mediterranean Diet merupakan satu jenis diet modern yang digunakan untuk menggantikan cara diet tradisional karena dinilai membawa dampak negatif bagi pelaku. ref: id.wikipedia.org

Ada teori yang mengatakan bahwa mekanisme aksi squalene sebagai anti-karsinogenik adalah dengan melakukan penurunan level farnesyl pirofosfat didalam sel, di mana prenilasi FPP diperlukan untuk aktivasi onkogen.

Sebuah konsep yang direkomendasikan dalam mengurangi risiko kanker tanpa merubah jalur biochemicular normal secara drastis.

Mekanisme anti kanker yang sudah disimpulkan agar efektif adalah dengan meningkatkan kadar squalene dalam tubuh.

Kemuaidn mengirimkan hambatan melalui negative feedback ke enzim HMG-CoA, dengan kondisi tersebut sintesis FPP akan lebih sedikit.

Model mekanisme atau teori tersebut diatas berarti bisa untuk perlindungan pada payudara, pankreas, karsinoma usus besar, serta tumor serupa yang berkaitan dengan proses mutasi onkogen.

Selain mekanisme utama diatas, squalene juga bisa bersifat sebagai penangkal radikal bebas, kemungkinan bisa meningkatkan efek anti-karsinogenik dari obat yang dikonsumsi selama perawatan kanker.

Serta mengindikasikan adanya sinergi dalam melawan kanker dengan asam oleat (unsur lain minyak zaitun).

Squalene melalui pengujian metabolit toksis beracun memberikan harapan bisa mengurangi efek samping yang diinduksi kemoterapi, walaupun belum ada penelitian secara langsung untuk hal ini.